Sabtu, 27 September 2014

26 september 2014 'Manusia dan afektivitasnya


Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
•Yg membedakan manusia dengan tumbuhan: afektivitasnya.
•Afektivitaslah yg membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dg org lain. Afektifitaslah yg mendorong org utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
•Cara hadir kita di dunia diperdalam oleh afektivitas.
•Afektivitas termasuk kegiatan yg kompleks.
•Bgm disposisi afektif dasariah si subyek thdp obyeknya? seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling drnya krn menganggapnya buruk. Cinta : buah afektivitas positif, benci= buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.

•Sikap mana yg diambil afektivitas berhadapan dg obyek?Terhadap obyek yg dianggap berguna subyek mencintainya. Ini disebut cinta utilitaris atau bermanfaat.
•Bagaimana sikap subyek dpt ditentukan scr afektif oleh obyeknya? Dibedakan ‘perasaan’ dan ‘emosi’.Kehidupan afektif memperlihatkan macam2 cara yg berbeda2 menurut bgm subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yg berbeda2 ini disebut ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
•Meninjau ciri khas kebenaran afektivitas yg disebut ‘suasana hati’. orang bersuasana hati baik: bila semua kemampuan bekerja dg baik.
Apa yg bukan perbuatan afektif
•Cinta membuktikan diri dlm perbuatan2. Cinta mendahului perbuatan2.
•Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.

Apa yg merupakan perbuatan afektif?
•Hidup afektif atau afektivitas=seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
•Perbuatan afektif sedikit mirip dg  ‘perbuatan mengenal’ krn dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan ‘perbuatan mengenal’ krn perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.
Kondisi afektivitas manusia
•Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya.

•Org sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai org lain dg sungguh2.
•Egoisme menolak setiap perhatian otentik pd org lain. Org egois hanya mengambil untung dr apa saja.
•Jika kita mencintai Tuhan dg seluruh jiwa atau hati, tdkkah itu sama dg mengasingkan diri dr diri sendiri? Tidak. Tuhan tdk melawan kita. Ia transenden dan imanen. St. Agustinus: Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing2. Ia  dasar dlm mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin sy mendekati org lain, makin saya mendekati Tuhan.

Senin, 22 September 2014

Pertemuan 5 Etika dan Moral

ETIKA dan MORAL

Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok orang dan karena itu orang atau kelompok itu selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dan perilaku dan tindakan manusia.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
•Etika adalah sikap kritis setiap pribadi dan kelompok masyarakat dalam merealisasikan moralitas itu. 

Dua Macam Etika yang 
Berkaitan Dengan Nilai dan Norma :

Etika Deskriptif : Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. 
 
Dua Macam Etika yang 
Berkaitan Dengan Nilai dan Norma :
Etika Deskriptif : Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. 
 
Berdasar Kajian Ilmu:
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. 
2.Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.
 
BERDASAR JENISNYA ETIKA:
3. Etika Deskriptif :Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.

ETIKA KHUSUS
merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus
ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :
Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap    dirinya sendiri.
Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
Profesi
•Pekerjaan yg mengandalkan ketrampilan dan keahlian khusus
•Pekerjaan yg dilakukan sebagai sumber utama nafkah hidup dg keterlibatan pribadi yg mendalam dalam menekuninya.
•Pekerjaan yg menuntut pengembangan untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan sesuai perkembangn teknologi.
Etika Profesi
Etika Profesi adalah : Etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.
 
Ciri-ciri Etika Profesi
Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
•Adanya pengetahuan khusus,   Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
•Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi.
•Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
•Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi.  
•Menjadi anggota dari suatu profesi.
 
PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI 
 
1. Tanggung jawab
•Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
•Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.
Kode Etik
•Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.


PENGERTIAN ETIKA
Bertens : Etika berasal  dari bahasa Yunani kuno ethos dlm bentuk tunggal, artinya adat kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang baik
 
Etika menurut Bertens :
1.Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. 
2.Kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode etik, misalnya : Kode Etik Advokat Indonesia, Kode Etik Notaris Indonesia.
3.Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. 

ETIKA DIBEDAKAN MENJADI 2:
ETIKA PERANGAI
 Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Contoh: berbusana adat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
 
ETIKA MORAL
 Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Contoh: berkata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua atau guru, membela kebenaran dan keadilan, menyantuni anak yatim-piatu.
ARTI DAN MAKNA
●  Arti Etika
● Objek Etika
● Etika sebagai cabang filsafat
● Etika dan Moral
● Amoral dan Immoral
● Etika dan Etiket
● Etika dan Hukum
● Etika dan Agama

ARTI ETIKA
•Etika sebagai ilmu
 “Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.”
•Etika sebagai kode etik
 “Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.”
•Etika sebagai sistem nilai
  “Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.

OBYEK MATERIAL & 
OBYEK FORMAL ETIKA
Objek material : suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. 
•Objek formal : cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti atau ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
Objek material etika : tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).
Objek formal etika : kebaikan dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.
 
ETIKA SEBAGAI CABANG FILSAFAT
•Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral, atau menerjemahkan pelbagai nilai itu ke dalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi kehidupan konkret.
 
Berdasar Kajian Ilmu:
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. 
2.Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.
 
2. TUJAN BELAJAR ETIKA
•Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu
•Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
 
3. SISTEMATIKA ETIKA
De Vos (1987)
ETIKA:
•Etika Deskriptif
  1. Sejarah Kesusilaan
  2. Fenomenologi Kesusilaan
•Etika Normatif
 
K. Bertens (1993):
ETIKA:
•Etika Deskriptif
•Etika Normatif
  1. Etika Umum
  2. Etika Khusus
 
Franz Magnis-Suseno (1991)
ETIKA:
•Etika Umum
•Etika Khusus
 
ETIKA DESKRIPTIF

•Dalam etika deskriptif, etika membahas apa yang dipandangnya.

•Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. 

•Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu dan kebudayaan atau subkultur tertentu, atau dalam suatu periode sejarah.

SEJARAH KESUSILAAN
•Bagian ini timbul bila orang menerapkan metode historis dalam etika deskriptif.

FENOMENOLOGI KESUSILAAN
Fenomenologi : fenomenon + logos
Fenomenon : sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya (sering disebut gejala)
Logos : uraian, percakapan
Fenomenologi: Uraian atau percakapan tentang fenomenon atau sesuatu yang sedang menampakkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala.
 
PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :
 
1. Tanggung jawab
•Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
•Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.
Kode Etik
•Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Tujuan Kode Etik
 
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

4. ALIRAN DALAM ETIKA
•Eudemonisme: (Yunani: eu+daimon : roh atau semangat yang baik). Pandangan aliran ini menekankan bahwa kebaikan tertinggi manusia terletak pada kebahagiaan atau situasi yang secara umum baik. 

Aliran Pemikiran Etika
•Egoisme: kesenangan dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan orang lain. 
•Utilitarianisme:  (Latin: uti, usus sum= menggunakan atau utilis= yang berguna).

Aliran Pemikiran Etika
•Deontologisme (Yunani: deon+logos : ilmu tentang kewajiban moral). Adalah etika kewajiban yang didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip-prinsip moral. •Deontologisme Etis: berpendirian bahwa sesuatu tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan suatu hal. 
•Etika situasi: kebenaran suatu tindakan ditemukan dalam situasi konkret individual atau bagaimana situasi itu mempengaruhi kesadaran individual.

5. BEDA ETIKA DAN MORAL
•Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos,” artinya adat kebiasaan, (jamaknya “ta etha”),Moral berasal dari bahasa Latin “mos,” artinya adat kebiasaan (jamaknya “mores”). Jadi, keduanya memiliki kesamaan arti. Hanya asal bahasanya yang berbeda.
 
AMORAL DAN IMORAL
•Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta):Tidak terdapat kata “amoral” ataupun “immoral”.
 
•Kamus Besar Bahasa Indonesia:
 “Amoral” dijelaskan sebagai “tidak bermoral, tidak berakhlak” (contoh: “Memeras para pensiunan adalah tindakan amoral”); tidak terdapat kata “immoral”.

Amoral:
•tidak berhubungan dengan konteks moral
•di luar suasana etis
•non-moral
Immoral:
•bertentangan dengan moralitas yang baik
•secara moral buruk
•tidak etis
   

6.BEDA ETIKA DAN HUKUM
•Hukum lebih dikodifikasi daripada etika; etika tidak dikodifikasi.
•Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja; etika menyangkut juga sikap batin seseorang.
•Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan etika (sanksi hukum bisa dipaksakan, etika tidak bisa dipaksakan).
•Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara : etika melebihi para individu dan masyarakat.
•Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.
•Etika ditujukan kepada manusia sebagai individu : hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.

PENGERTIAN ETIKA
•Bertens : Etika berasal  dari bahasa Yunani kuno ethos dlm bentuk tunggal, artinya adat kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang baik

 
OBYEK MATERIAL & 
OBYEK FORMAL ETIKA
Objek material : suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. 
Objek formal : cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti atau ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
Objek material etika : tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).

Pertemuan 5 Silogisme

Silogisme : suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis2) disimpulkan suatu putusan yg baru.
Prinsip: bila premis benar, maka simpulannya benar.
•Dua macam silogisme: silogisme kategoris dan silogisme hipotetis.

Silogisme kategoris
•Arti: silogisme yg premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (pernyataan tanpa syarat).
•Contoh: M – P  Perbuatan jahat itu haram.
   S – M Menghina itu adalah perbuatan jahat.
   S – P  Maka, menghina itu haram.

Silogisme kategoris
•Silogisme kategoris tunggal: mempunyai dua premis, terdiri atas 3 term S, P, M.
•Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
   (1) M adalah S dlm premis mayor dan P dlm permis minor. Aturan: premis minor hrs sbg penegasan, sedang premis mayor bersifat umum. 
•(2) M jd P dlm premis mayor dan minor. Aturan: salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.
•(3) M menjadi S dlm premis mayor dan minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan  dan simpulannya bersifat partikular.
•(4) M adalah P dlm premis mayor dan S dlm premis minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan, sedangkan  Simpulan bersifat partikular. 

•Arti: bentuk silogisme yg premis2nya sangat lengkap, lebih dr tiga premis. Jenis2nya:
•Epicherema: silogisme yg salah satu/kedua premisnya disertai alasan.
  Semua arloji bermutu adalah arloji mahal, krn sukar pembuatannya.Arloji Mido itu adalah arloji baik, krn selalu tepat dan awet.Jadi, arloji Mido adalah arloji mahal.
 
Enthymema: silogisme yg dlm penalarannya tdk mengemukakan semua premis scr eksplisit. Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yg disingkat. Mis. Jiwa manusia adalah rohani. Jadi, tddk akan mati (versi singkat).
   
Polisilogisme: deretan silogisme dimana simpulan silogisme yg satu menjadi premis utk silogisme yg lainnya.
 
Sorites: silogisme yg premisnya lebih dr dua. Putusan2 itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, shg predikat dr putusan yg satu jadi subjek putusan berikutnya.
   
Hukum silogisme kategoris (ttg isi dan luas S dan P)
•Silogisme tdk boleh mengandung lebih dr tiga term (S, M, P). Kurang dr tiga berarti tdk ada silogisme. Lebih dr tiga term artinya tdk ada perbandingan. Ketiga term tetap sama artinya. Dlm silogisme S dan P disatukan oleh perbandingan masing2 dg M.
•M tdk boleh masuk dalam kesimpulan, krn M berfungsi mengadakan perbandingan dengan term2.

Pertemuan 5 Kesesatan Pemikiran (FALLACIA)


Defenisi
Fallacia : kesalahan pemikiran dlm logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan krn penalaran yg tdk sehat.
Kesalahan fakta: Presiden AS Barack Obama lahir di Indonesia. Ahmad lahir dg bintang gemini, maka hidupnya penuh dg persoalan.
Klasifikasi: kesesatan formal dan kesesatan informal.
Kesesatan formal: pelanggaran tdhp kaidah logika, mis. Semua penodong berwajah seram. Semua pengamen berwajah seram. Jadi semua pengamen adalah penodong. Apa yg dilanggar?
 
Kesesatan informal: menyangkut kesesatan dlm bahasa.
•Penempatan kata depan yg keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.
Mengacau posisi subjek atau predikat: Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
Ungkapan yg keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
Amfiboli: sesat krn struktur kalimat bercabang. Mis. Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.
Kesesatan aksen/prosodi: sesat krn penekanan yg salah dlm pembicaraan. 
Kesesatan bentuk pembicaraan:sesat krn org menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain. 
Kesesatan aksiden: yg aksidental dikacaukan dg hal yang hakiki. 
Kesesatan karena alasan yg salah: Konklusi ditarik dr premis yg tak relevan.

Kesesatan presumsi
Generalisasi tergesa-gesa: Orang Padang pandai memasak.
Non sequitur (belum tentu): Memang saya tidak lulus karena beberapa hari yang lalu saya berdebat dg dosen tsb.
Analogi palsu:Membuat isteri bahagia seperti membuat hewan piaraan bahagia dg membelai kepalanya dan memberi banyak makan.
Penalaran melingkar (petitio principii): Manusia merdeka krn ia bertanggungjawab dan ia bertanggungjawab krn ia merdeka.
Deduksi cacat: Barangsiapa sering memberi sumbangan, maka dia pasti org baik. Andi pasti orang baik.
Pikiran simplistis: Karena ia tidak beragama, maka ia pasti tidak bermoral.
Menghindari persoalan
Argumentum ad hominem: Jangan percaya omongannya krn ia bekas narapidana.
Argumentum ad populum: Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka Partai Nasdem adalah partai masa depan kita.
Argumentum ad misericordiam: Seorg terdakwa meminta keringanan hukuman krn mengaku punya banyak tanggungan.
Argumentum ad baculum: Karena beda pendapat, suka meneror org lain.
Argumentum ad auctoritatem: Mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa.
Argumentum ad ignorantiam: Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.
Argumen utk keuntungan seseorang: Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau dijadikan isteri.
Non causa pro causa: Org sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sbg penyebabnya.
 
Kesesatan retoris
Eufemisme/disfemisme: Pembangkang yg dianggap benar disebut reformator. 
•Penjelasan retorik: Dia tidak lulus krn tidak teliti mengerjakan  soal.
Stereotipe: Orang Jawa penyabar. Orang Batak suka menyanyi.
Innuendo: Sy tdk mengatakan makanan tdk enak, tapi mau mengatakan lukisan itu bagus.
Weaseler: Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan.
Downplay: Jangan anggap serius omongannya krn dia hanya buruh bangunan.
Hiperbola: membesarbesarkan.
Pengandaian bukti:studi menunjukkan.
Dilema semu: Tamu yg menolak kopi, langsung disuguhi sirup.

Pertemuan IV Sunyektivisme danobyektivisme pertemuan IV subyektivisme


SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME PERTEMUAN IV SUBYEKTIVISME

•Pendukung pandangan ini adalah:
•Aristoteles, Plato, Rene Descartes
•Kaum Solipsisme (solo ipse)
• Kaum Realisme Epistemologis
• Kaum Idealisme Epistemologis
 

Subyektivisme
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
●Menggagas pengetahuan sbg suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa).
●Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sbg titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
●Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
 
SUBYEKTIVISME
DESCARTES
•Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
•Ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”, ia tidak bermaksud secara eksklusif pd penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan “berpikir”.

Subyektivisme
Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
•Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
 
Subyektivisme
•Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme.

 
Subyektivisme
•Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara langsung memunculkan data-data indra  dalam kesadaran kita tanpa harus ada “dunia luar” yang mendasarinya.
•Indera dapat memberikan pengetahuan tentang dunia fisik yang dapat dipercayai
• kebenaran bukan karena indera sendiri dapat diandalkan, tetapi hanya berdasarkan keyakinan Tuhan yang menciptakan indera pada manusia yang tdk mungkin menipu.
 
Subyektivisme
•Keberadaan sesuatu di luar diri atau “yang bukan aku” dalam pengalaman sehari-hari misalnya menjadi jelas dari gejala bahasa.
•Kenyataan adanya bahasa selalu mengandaikan bahwa adanya pribadi atau subyek lain selain dirinya sendiri.
•Bahasa sebagai saranan komunikasi untuk menjalin hubungan dengan yang lain.
•Berkaitan dengan gejala bahasa bahwa melalui pengalaman sehari-hari terjadinya dilaog, yang mengandaikan adanya orang lain.
•Dalam kesleuruhan proses dialog keberadaan diandaikan adanya subyek lain atau “yang bukan aku” atau dia yang menjadi lawan bicara ku.
 

Subyektivisme
•Aku sadar dan kenal diriku justru dalam kesadaran dan pengenalan yang bukan aku.
•Dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga sebagai pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya “yang lain” baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subyek dalam dialog.  
 

OBYEKTIVISME
•Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia – dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks – mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
•Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
•Pendukung pandangan ini adalah:
–Popper, Latatos dan Marx
 
OBYEKTIVISME
•Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia.

Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
1.Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif,
2.Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3.Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
 
Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
•Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
•Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas.
•Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak.
 
Obyektivisme
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
  a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
  b.    Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
  c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada. Misalnya, warna akan ditangkat idera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
 

Pertemuan IV Logika


LOGIKA


APA ITU LOGIKA?
•Logika dari bahasa Yunani , yaitu logikos berarti: sesuatu yg diungkapkan atau diutarakan lewat bahasa.
•Pertama sekali digunakan istilah itu oleh Zeno dari Citium (334 – 262 seb. M).
Logika : cabang filsafat yg mempelajari, menyusun, dan membahas asas2 atau aturan formal serta kriteria yg sahih bagi penalaran dan penyimpulan utk mencapai kebenaran yg dpt dipertanggungjawabkan scr rasional.
Secara singkat dapat dikatakan logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).

Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. 
•Logika juga merupakan ilmu pengetahuan dalam arti ini. 
•logika bukanlah teori belaka. Logika juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek.
•Inilah sebabnya mengapa logika disebut filsafat yang praktis.

Obyek Logika
•Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
•Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
 
Manfaat Belajar Logika
1.Membantu setiap  orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
2.Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar scr abstrak.
3.Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
4.Menambah kecerdasan berpikir, shg bs menghindari kesesatan dan kekeliruan dlm menarik kesimpulan.
 
Sejarah Logika
•Sebagai istilah logika pertama sekali digunakan oleh Zeno dg aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Kendati istilah yg digunakan adalah analitika, tp dialah yg pertama sekali meneliti berbagai argumentasi yg berangkat dr proposisi yg benar.
•Prinsip logika tradisional yg dikembangkan Aristoteles tetap menjadi prinsip2 logika modern. Logika tradisional membahas definisi, konsep dan term menurut struktur, susunan dan nuansa, seluk beluk penalaran utk mendapat kebenaran yg sesuai dg kenyataan.
 
Macam-Macam Logika
Logika kodrati: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika scr spontan. 
Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dpt bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari. 

pengertian-pengertian di dalamnya dan menggantinya dengan tanda-tanda huruf terdapatlah pola penyusunan sebagai berikut:
•Semua M adalah P.
•Semua S adalah M.
•Jadi, semua S adalah P.
•Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. 
•Semua penalaran, apa pun isi atau maknanya, asal bentuknya tepat, dapat dipastikan bahwa penalaran itu sahih. Jadi tanda-tanda M, P, dan S dapat diganti degan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara logis dari premis maka penalaran itu tepat.
•Misalnya:
   Malaikat itu benda fisik.
   Batu itu malaikat.
   Maka, batu itu benda fisik.
•Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pernyataan yang membentuk argumen di atas adalah salah (tidak sesuai fakta).
•Namun argumen tersebut benar berdasarkan logika formal dari segi bentuknya, karena kesimpulan sungguh ditarik dari premis atau titik pangkal yang menjadi dasar penyimpulan tersebut.

Logika Material/Isi
Misalnya:
•Semua manusia memiliki kaki.
•budi memiliki kaki
•Jadi, budi adalah manusia.
 
•Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pertanyaan yang membentuk argumen di atas adalah benar (sesuai dengan kenyataan) dengan demikian argumen tersebut memiliki kebenaran isi.
 
•Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, argumen tersebut sesungguhnya secara formal (menurut bentuknya) tidaklah sahih (valid).

•Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan.
•Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak
Contoh
•Kalau premis-premis salah,maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
•Semua binatang menyusui memiliki sayap
•Burung binatang menyusui
•Jadi burung memilkki sayap
•Jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.

Pertemuan IV Logika Induktif-Deduktif

•Tiga ciri penalaran induktif:
 1)Premis penal induktif : proposisi empiris yg ditangkap indera
 2) Kesimpulan dlm penalaran induksi lebih luas drpd apa yang dinyatakan dlm premis.
 3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya. 
Generalisasi induktif
Arti: Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dg sifat tertentu utk menarik kesimpulan ttg semua.
Prinsip: Apa yg terjadi beberapa kali dlm kondisi tertentu dpt diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yg sama terpenuhi.
•Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tdk terbatas scr numerik, tdk boleh terikat pd jumlah tertentu
2) Tdk terbatas scr spasio temporal, hrs berlaku dimana saja. 
3) Dpt dijadikan dasar pengandaian.
Analogi induktif

Analogi : bicara ttg dua hal yg berbeda dan dibandingkan. 
•Bila memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi.
•Kesimpulan analogi induktif tdk bersifat universal tapi khusus. 

Deduktif
Desuksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’ . 

Induksi dan deduksi selalu berdampingan, keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. 

Faktor probabilitas
•Kebenaran konklusi dlm logika induktif, baik dlm analogi maupun generalisasi bersifat TIDAK PASTI, krn hanya bersifat mungkin (probabel). 

•Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh  
(1) faktor fakta: ‘makin besar jumlah fakta yg dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya’. 
(2) faktor analogi: semakin besar jumlah faktor analogi dlm premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya. (3) faktor disanalogi: ‘makin besar faktor disanalogi di dlm premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya’. 
(4) faktor luas konklusi: ‘semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya.

Kesesatan generalisasi/analogi
•Tinggi rendahnya probabilitas penalaran ditentukan faktor subjektif.

Hubungan sebab akibat
Prinsip umum: suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung makna bhw yg satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tp tdk semua yg mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.

Hub sebab akibat = hubungan yg intrinsik, artinya hub sedemikan rupa shg kalau yg satu ada atau tdk ada, maka yang lain juga pasti ada atau tidak ada.
•Tiga pola hub sebab akibat: 
1) dari sebab ke akibat
2) dari akibat ke sebab
3) dari akibat ke akibat.
Manfaat belajar penalaran induksi
B. Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dr logika deduktif, tp juga lebih sulit.

Pertemuan IV Logika Deduktif dan Induktif


•Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari premis-premis itu ditarik suatu kesimpulan.
•Dengan demikian, silogisme dapat dipahami sebagai suatu jenis penarikan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang sudah diketahui.
•Maksud dari premis-premis itu untuk memberikan bukti bahwa kesimpulan itu benar.  

•Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan.
•Artinya, jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar.
•Benar salahnya kesimpulan deduktif berdasarkan rujukan realitas, argumentasi-argumentasi deduktif yang memiliki kekhasan tersendiri.
•Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid).
 
•Apa yang dimaksud dengan kebenaran premis?
•Premis dianggap “benar” apabila sesuai dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap “salah” apabila tidak sesuai dengan realita.
•Misalnya “Semua mahasiswa Psikologi Untar Pandai”
•Pernyataan tersebut dianggap benar sebab sesuai dengan realitas.
•Misalnya”Semua mahasiswa Psikologi Untar perempuan membenci laki-laki”
•Tentunya pernyataan tersebut dianggap salah sebab tidak semua mahasiswa perempuan membenci laki-laki.

•Suatu argumentasi disebut silogisme apabila mengikuti ciri-ciri sebagai berikut.
1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi.

•Premis Mayor: Setiap cendekiawan adalah kaum intelektual
•Premis Minor: Psikolog adalah cendekiawan
•Konklusi: Jadi, Psikolog adalah kaum intelektual.
•Argumentasi tersebut dinamakan silogisme karena argumentasi tersebut terdiri dari 3 ciri tersebut.
•Di mana proposisi hubungan antara subyek dan predikat bersifat langsung, tanpa syarat. Dengan kata lain pengakuan predikat terhadap subyek bersifat langsung.
•Pengakuan predikat “kaum intelektual” terhadap subyek “setiap cendekiawan” bersifat langsung.

•Siilogisme dalam contoh tersebut terdiri dari dua premis dan satu kesimpulan, yaitu premis mayor, Premis minor dan kesimpulan.
•Silogisme terdiri dari ketiga term yang berbeda (term mayor, term minor dan term menengah), serta masing-masing term muncul dalam dua dari tiga proposisi.
•Misalnya, term mayor “kaum intelektual” terdapat baik pada premis mayor maupun dalam kesimpulan. Term minor, yaitu “Psikolog”, terdapat di premis minor dan kesimpulan. Dan term menengah (term penghubung kedua premis) yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis minor.


•Perhatikan dan pelajari contoh berikut ini:
•Saya bertemu dengan seorang bapak. Tak lama kemudian dia mendekatiku dan meminta sedekah (mengemis). Saya perhatikan bapak tersebut mempunyai ciri-ciri tua, baju compang-camping, serta badannya kotor dan bau. Di tempat lain, saya bertemu dengan seorang bapak lagi. Ketika saya amat-amati ternyata ciri-cirinya sama dengan bapak yang pertama. Pengalaman ini terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, saya melihat seorang bapak dengan ciri-ciri seperti di atas, yaitu tua, baju compang-camping, badan kotor dan bau, maka saya langsung mengambil kesimpulan bahwa bapak tersebut pasti seorang pengemis. Kesimpulan ini saya ambil karena saya menyimpulkan bahwa semua orang dengan ciri-ciri tersebut pasti pengemis. Inilah cara berpikir induksi.  

•Apabil melihat pada contoh tersebut, di mana dimulai dengan mengkaji atau meneliti atau mengamati beberapa fenomena dan mengumpulkan berbagai data yang kemudian dievaluasi untuk melahirkan sebuah kesimpulan umum.
•Meskipun dengan cara penarikkan kesimpulan melalui berpikir induksi dapat sah yang dianggap benar dan berlaku umum, namun kebenaran kesimpulan itu, baik berupa hukum atau teori ilmiah harus dianggap bersifat sementara.
Loading...
•Kendati kita secara sah mendasarkan diri pada berbagai fakta yang ada untuk menarik kesimpulan yang benar, namun ini tidak dengan sendirinya menjamin bahwa kesimpulan itu benar secara mutlak.
•Hal ini disebabkan ciri dasar berpikir induksi adalah selalu tidak lengkap.
•Dalam kegiatan ilmiah, biasanya peneliti berkerja berdasarkan pengamatan dan data yang sangat terbatas. Peneliti biasanya tidak mengumpulkan semua data yang relevan, melainkan hanya beberapa data yang dianggap mewakili, karena data yang relevan jumlahnya tidak terbatas,  

•Di satu pihak penalaran induksi memiliki persamaan dengan deduksi, yaitu kedua-duanya mendasari argumentasi-argumentasinya dari premis-premis yang mendukung kesimpulan.
•Perbedaan mendasarnya, argumentasi dalam penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis yang benar, namun kesimpulannya dapat salah.
•Hal ini disebabkan oleh argumentasi-argumentasi dalam penalaran induksi yang tidak membuktikan bahwa kesimpulan itu benar.
 

•Premis hanya menetapkan bahwa kesimpulan berisi suatu kemungkinan, sebab premis hanya mengandung sebagain dari bukti atau data yang dibutuhkan kesimpulan.
•Karena itu informasi atau data yang terdapat dalam premis kurang memadai bila dibandingkan dengan informasi yang dibutuhkan kesimpulan.
•Akibatnya, argumentasi-argumentasi yang terdapat dalam penalaran induksi tidak dinilai sebagai valid (sahih) atau invalid (tidak sahih), melainkan berdasarkan probabilitas.

•Kesimpulan dari argumentasi induktif berupa pernyataan umum yang didasarkan pada premis-premis mengenai sampel-sampel khusus.
•Dengan kata lain, bentuk penalaran induksi didasarkan pada sampling dari banyak kasus individual.
•Karena itu, argumentasi induksi akan menjadi lebih kuat apabila jumlah kasus individualnya meningkat (diperbanyak).

1.Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
2.Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
3.Meskipun kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.

•Proses induksi dapat dibedakan menjadi generasilasi induksi, analogi induktif dan hubungan sebab akibat.
•Genaralisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atu sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua.
•Dapat dikatakan juga sebagai bentuk penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus atau premis ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
Loading...
•Prinsipnya adalah “ apa yang diterjadi beberapa kali dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi”.
•Kesimpulan dalam generalisasi itu hanya suatu harapan, kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas atau peluang.

•Contoh:
•Suatu kali Budi pergi ke Bogor menggunakan travel dan berkenalana dengan seorang wanita. Wanita tersebut memperkenalkan dirinya sebagai orang Sunda yang berasal dari Ciawi. Sejak semula Budi mengamat-amati wanita tersebut dan mengakuinya secara terus terang bahwa wanita tersebut cantik dan menarik. Beberapa hari kemudian, dasar memang lagi mujur, Budi bertemu lagi dengan seorang wanita lain ketika berada di Bandung dan berkenalan. Ketika Budi bertanya asal daerahnya dan wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya orang Sunda dari Ciawi. Pengalaman ini terjadi sampai lima kali dan kebetulan perempuan yang dijumpai Paril dengan ciri-ciri yang sama berasal dari Ciawi dan keturunan Sunda. Budi mengakui bahwa semua wanita itu cantik dan menarik. Budi pun berkesimpulan bahwa “Semua wanita Ciawi dan keturunan Sunda itu cantik dan menarik”.

•Menarik kesimpulan seperti contoh tersebut adalah melakukan generalisasi berdasarkan fakta-fakta tunggal yang diamati atau dialami.
•Mengapa dilakukan generalisasi atas fakta-fakta yang sebenarnya bersifat tunggal?
•Ada beberapa syarat generalisasi yang harus diperhatikan:
 

1.Generasilasi tidak terbatas secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah tertentu.
2.Generalisasi tidak terbatas secara “spasio-temporal”. Artinya generalisasi tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi berlaku di mana saja dan kapan saja.
3.Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian. Misalnya, ada fakta bahwa anak SMA itu berbeda dengan mahasiswa. Apabila ditemukan fakta bahwa anak SMA sering membolos, mencontek saat ujian, suka tawuran dan tidak dapat diatur. Seandainya mahasiswa mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa itu sama dengan anak SMA.

•Berbicara mengenai analogi adalah berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan.
•Dalam melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedan.
•Apabila kita membandingkan dua orang hanya melihat dari aspek persamaannya tanpa melihat perbedaan, maka timbullah analogi, yaitu persamaan di antara dua hal yang berbeda.

•Analogi dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran  gejala khusus lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama.
•Yang terpenting dalam analogi induktif adalah apakah persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan sungguh-sungguh merupakan ciri-ciri esensial yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.

•Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal melainkan khusus, walau benar bahwa tidak mungkin kesimpulan yang khusus dalam analogi itu terjadi kalao tidak berpikir bahwa hal itu terjadi dalam keseluruhan.
•Prinsip dasar penalaran analogi induktif adalah “Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlaku bagi a, b, dan c dapat diharapkan berlaku juga untuk d.”
•Perhatikan contoh:
•Mangga I   : kuning, besar, matang ternyata manis
•Mangga II  : kuning, besar, matang ternyata manis
•Mangga III : kuning, besar, matang ternyata manis
•Mangga IV : kuning, besar, matang
•Kesimpulannya : mangga ke IV tentu manis juga.

 
•Ani anak pak Yudi yang suka membaca, belajar dengan giat dan anak yang pintar.
•Budi anak pak Yudi suka membaca, belajar dengan giat dan anak yang pintar.
•Iwan anak pak Yudi suka membaca, belajar dengan giat dan anak yang pintar.
•Evi anak pak Yudi.
•Kesimpulannya: Evi anak yang pintar.

•Analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan di antara dua hal yang berbeda, tetapi juga menarik kesimpulan atas dasar persamaan.
•Berbeda dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal, melainkan tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan.
•Subyek-subyek itu yang dapat bersifat individual, partikular maupun universal. Akan tetapi sebagai penalaran induktif, konklusinya lebih luas dari premis-premis.

•Kebenaran kesimpulan dalam logika induktif, baik itu generalisasi maupun analogi induktif bersifat tidak pasti.
•Hal ini dikarenakan kebenarannya bersifat masih kemungkinan. Artinya kebenaran kesimpulan induksi selalu terkait dengan tinggi rendahnya probabilitas.
•Probabilitas adalah keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
•Misalnya, kesimpulan bahwa “semua manusia akan mati” adalah kesimpulan yang pasti benar hanya jika menunjuk pada mereka yang telah mati.

•Namun kesimpulan itu hanya memiliki probabilitas yang tinggi jika menyangkut manusia yang masih hidup dan belum lahir.
•Kita tidak dapat memastikan kepastian absolut apakah orang hidup sekarang tidak akan mati atau orang yang akan lahir nanti tidak akan mati.
•Tinggi rendahnya probabilitas kesimpulan induktif dipengaruhi beberapa faktor, di antara faktor fakta,faktor analogi, faktor disanalogi dan faktor luas konklusi.

•Faktor fakta berkenaan dengan prinsip “semakin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, akan semakin tinggi pula probabilitas konklusinya, dan sebaliknya”
•Fakta analogi berkenaan dengan prinsip “Semakin besar jumlah faktor analogi di dalam premis, akan semakin rendah probabilitas konklusinya dan sebaliknya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah faktor kesamaan.

•Fakta disanologi terkait dengan prinsip “semkian besar faktor disanologi di dalam premis, akan semakin tinggi probabilitas konklusinya dan sebaliknya”. Yang dimaksud dengan faktor disanologi adalah faktor ketidaksamaan.
•Faktor luas konklusi terkait prinsip “Semakin luas konklusinya, semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya”.

•Selain faktor-faktor obyektif sebagaimana yang telah diungkapkan, tinggi rendahnya probabilitas suatu penalaran juga dipengaruhi faktor-faktor subyektif.
•Faktor subyektif biasanya muncul dalam penelaran seseorang yang keberadaannya tidak disadari.
•Namun apabila seseorang akan menerima bahwa penyimpulannya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah penalaran jika ia dikritik serta dikorekasi.
•Ketidaksesuaian dengan kaidah-kaidah penelaran akan membuat dan membawa manusia mengalamai kesesatan (fallacy)

•Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif, yaitu:
1.Faktor Tergesa-gesa
2.Faktor ceroboh
3.Faktor prasangka

•Bentuk penalaran induksi yang ketiga adalah hubungans ebab akibat.
•Prinsip umum hubungans ebab akibat menyatakan bahwa “suatu pristiwa disebabkan oleh sesuatu”
•Hubungan sebab akibat seringkali dikaitkan bahwa keadaan yang terjadi disebabkan oleh keadaan atau kejadian lainnya. Kejadian yang lainnya disebut sebab dan yang terjadi sebagai akibat.

•Hubungan sebab akibat sebenarnya merupakan suatu hubungan yang intrinsik atau hubungan yang asasi dalam pengertian hubungan yang sedemikian rupa sehingga apabila satu (sebab) ada / tiada maka yang lain juga pasti ada / tiada.
•Hubungan sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:
•Pola dari sebab ke akibat
•Pola dari akibat ke sebab
•Pola dari akibat ke akibat.

•Suatu hari saya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk membeli sepatu. Setelah berputar-putar mengeliling berberapa toko sepatu. Ketika saya sampai di salah satu toko sepatu  dan melihat merek serta modelnya, akhirnya saya mendapatkan merek dan model sepatu sebagaimana yang saya idam-idamkan. Setelah mencocokan nomor dan mencobanya, saya membawa sepatu tersebut ke kasir. Ketika hendak membayar dan saya membuka tas, ternyata dompek saya sudah tidak ada lagi. Saya telah kecopetan dan menyebabkan dompek dan sejumlah uang yang ada untuk mebayar sepatu hilang. Anda kemudian menyimpulkan bahwa karena dompet yang berisi uang itu hilang (sebab) maka anda tidak bisa membeli sepatu yang diinginkan (akibat). Jadi “uang hilang” merupakan sebab dan “tidak jadi membeli sepatu” merupakan akibat.

•Suatu hari saya bersama rekan-rekan hendak pergi ke pantai di Bandung. Karena mobil bis yang dicarter sesak dengan penumpang, maka saya memilih menggunakan mobil pribadi di mana saya bisa mengendrainya dengan santai dan tidak berhimpitan dengan lainnya. Ketika dalam perjalanan mobil yang saya kendarai mengalami gangguan dan akhirnya mogok. Mobil mogok adalah akibat dari sesuatu, dan sesuatu itu yang menjadi sebabnya.

•Saya buru-buru pulang ke rumah ketika dalam perjalanan perut saya mengalami mulas karena sudah saatnya jam makan siang. Dalam perjalanan pulang tersebut saya melihat jalan becek. Saat sampai di Rumah saya melihat sekitar halaman basah. Kemudian, saya teringat pakain yang saya jemur di pagi hari. Saya langsung berpikir bahwa pakaian tersebut pasti sudah basah. Pakaian menjadi basah bukan disebabkan jalanan becek dan halaman rumah yang basah, melainkan karena hujan. Kedua gejala yang terjadi tersebut, yaitu jalananan becek dan halaman rumah basah serta pakaian yang dijemur basah sama-sama merupakan akibat dari penyebab yang tidak saya pikirkan lagi, yaitu hujan yang turun. 

pertemuan IV Konfirmasi, Inferensi dan telaah kontruksi teori

3 Jenis Konfirmasi
•(1) decision theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual’?
•(2) estimation theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas. Mis. statistik.
•(3)reliability theory: menetapkan kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi yg berubah2 terhadap hipotesis.

Inferensi
•Kata inferensi artinya penyimpulan.
•Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion).
•Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan)
 
Jenis Inferensi
•Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan melalui dua cara.
•Yakni, cara deduktif dan induktif. Mengingat dua cara tersebut kemudian dikenal istilah inferensi deduktif dan inferensi induktif.
•Inferensi deduktif terbagi ke dalam dua jenis. Yakni, Inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung. 
 
Inferensi Langsung
•Inferensi Langsung ialah penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan).
•Premis yaitu data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
kesimpulan adalah pernyataan yang dihasilkan sesuai dengan premis-premis yang tersedia dan berhubungan secara logis dengan pernyataan tersebut.
•Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya.
 
Inferensi Tidak Langsung
•Inferensi Tidak Langsung adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis.
•Konklusi tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya.
•Premis-premis merupakan proposisi-proposisi yang digunakan untuk membuat konklusi.
•Proposisi-proposisi yang menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens.

HUKUM INFERENSI:
1.Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
2.Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
3.Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
4.Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.

Konstruksi Teori
•Defenisi: teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu.
•Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah.
•Defenisi lain: KBBI ->teori= pendapat yg dikemukakan sbg keterangan ttg suatu peristiwa. 

Dua Kutub Arti Teori
•Kutub 1: Teori sbg hukum eksperimental.
•Kutub 2: Teori sbg hukum yg berkwalitas normal, spt teori relativitasnya Einstein.  
•Teori relativitas Einstein: Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat materi yg menentang atau menghambat perubahan

 
Bagaimana Teori Berkembang?
•Pengelompokan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
•(1) Animisme: fase percaya pd mitos.
•(2) Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah 
(a) pengalaman
(b) klasifikasi : prosedur paling dasar utk mengubah data. 
(c) penemuan hubungan-hubungan
(d) perkiraan kabenaran.
•(3) Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris diterangkan dg kerangka pemikiran.

Konstruksi teori
•Dibangun dengan
1 abstraksi generalisasi.
2 deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).
3 Model Konstruksi Teori
•Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.

pertemuan III Epistemologi CS dan Kebenaran


EPISTEMOLOGI
 

•Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
 
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. 
 
b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. 
 
c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. 

Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan / theory of knowledge (arti sederhana), ilmu pgth yang mempelajari secara kritis tt sumber, struktur, dan kebenaran pengetahuan.

Dasar dan sumber Pengetahuan
•1. pengalaman manusia
•2. ingatan (memory)
•3. Penegasan tt apa yang diobservasi (  
      kesaksian )
•4. Minat dan rasa ingin tahu
•5. Pikiran dan penalaran
•6. Logika berpikir tepat dan logis
•7. Bahasa ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan
•8. Kebutuhan hidup manusia  mendorong terciptanya iptek

Struktur ilmu pengetahuan 
 
•Adanya  2 kutub yaitu
•A. kesadaran / subjek ( S ) berperan sebagai yg menyadari / mengetahui
•B. objek (O) berperan sebagai yg disadari / diketahui
•Hubungan antara  S dan O menghasilkan pengetahuan


KEBENARAN
Teori kebenaran dlm i.pengetahuan
•Teori kebenaran korespondensi
•Teori kebenaran koherensi
•Teori kebenaran pragmatik
•Teori kebenaran konsensus
•Teori kebenaran semantik
Teori kebenaran korespondesi
•Kebenaran akan terjadi apabila subjek  yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataannya
•Sifat kebenaran korespondensi: subyektif
Contoh:
•Saya melihat mobil berwarna hijau dan kenyataannya mobil itu memang berwarna hijau
Teori kebenaran koherensi
•Kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek
•Sifat kebenaran koherensi: objektif
Contoh:
•Beberapa dokter merasa yakin dan benar bahwa penyakit pasien itu disebabkan  keracunan makanan    
Teori kebenaran pragmatik
•Kebenaran akan terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaannya
Contoh:
•AC berguna untuk mendinginkan suhu ruangan
Teori kebenaran konsensus
•Kebenaran konsensus akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai  alasan tertentu
Contoh:
•Beberapa dokter yang menangani Bapak Gubernur sepakat bahwa  ia (pasien) harus dioperasi secepatnya karena penyakit usus buntunya sudah parah.  
Teori kebenaran semantik
•Kebenaran semantik akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata
Contoh:
•Saya dapat memahami dengan benar dan tepat tulisan di Jurnal Wacana mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial budaya  
Kegiatan ilmiah

•Pada sebuah riset (penelitian ) terdapat hubungan antara metodolgi, rasionalitas (kreativitas) dg epistemologi  
RISET/penelitian

Metodologi
Rasionalitas,
kreativitas
Epistemologi
Kesimpulan
•Sifat Epistemologi : kritis,normatif dan evaluatif dapat melekat pada proses kegiatan kognitif ilmuwan, tolok ukur kebenaran (sesuai teori kebenaran) yang dipertanggungjawab-kan secara logis pada IP & kegiatan ilmiah  
 
Pengertian Kebenaran
•Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis.
•Lawan dari kebenaran adalah salah.
•Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
•Suatu pengetahuan atau pernyataan di sebut benar jika sesuai dengan kenyataan.
•Dengan demikian, kenyataan menjadi suatu ukuran penentu penilaian.
•Kata Yunani untuk kebenaran adalah alètheia.
•Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alètheia berarti “ketaktersembunyiaan adanya” atau “ketersingkapan adanya”

•Menurut Plato bahwa selama kita terikat pada “yang ada” dan tidak masuk pada “adanya dari yang ada”, kita belum berjumpa dengan kebenaran, karena “adanya” itu masih tersembunyi.
•Baru ketika selubung yang menutupi itu “semua yang ada” itu disingkapkan sehingga terlihat oleh mata batin kita, maka terbukalah “adanya” atau bertemulah kita dengan kebenaran.
 
•Kebenaran dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada obyek yang diketahui, atau pada apa yang dikejar untuk diketahui.
•Menurut Plato bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini.

•Berbeda dengan Plato, Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.
•Ada tidaknya kebenaran dalam putusan yang bersangkutan bersifat afirmatif (menegaskan atau menguatkan) (S itu P) atau negatif (S itu bukan P) itu tergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan dalam diri subyek penahu itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan.
•Dalam hal ini kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara sunyek si pehanu dengan obyek yang diketahui.

•Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
•Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi)
•Misalnya bumi bulat sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran faktual atau tidak, pada prinsipnya harus bisa diuji kebenarannya berdasarkan pengamatan inderawi.  

•Kebenaran faktual sebagai kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi.
•Kebenaran faktual kepastiannya tidak pernah mutlak dan tetap diterima sebagai benar sejauh belum ada alternatif pandangan lain yang menggugurkannya.

•Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.
•Kebenaran nalar dapat membantu untuk memperoleh kebenaran faktual.
•Kebenaran nalar sebagai kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika. Kebenarannya di dasarkan pada penyimpulan deduktif,

•Kebenaran nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat ketika dibandingkan dengan yang lain, tidak mutlak dan relatif) dan mentak (mungkin, belum pasti), sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya (tentu, pasti).
 
•Selain kedua jenis kebenaran yang diungkapkan oleh kaum Positivis Logis, mengikuti Thomas Aquinas, maka kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).
•Kebenaran ontologis merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.

•Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial) merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.
•Kalau kebenaran ilmiah bersifat eksternal terhadap subyek, maka kebenaran eksistensial bersifat internal terhadap subyek.
•Dalam arti si subyek secara langsung terlibat dalam perkara yang dinilai atau dipertaruhkan.

•Kebenaran pada akhirnya berada dalam relasi antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui.
•Bagi manusia sebagai mahkluk yang terbatas, kebenaran sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya. Dan, itu ternyata tidak dapat disaksikan secara sekaligus dan menyeluruh.

Kesahihan dan Kekeliruan
•Kekeliruan perlu dibedakan dengan kesahihan.
•Pada umunya kekeliruan berati menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
•Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.

•Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup padahal sudah.
•Kekeliruan dapat dikarenakan gegabah dalam menegaskan putusan tentang suatu perkara.  

•Faktor yang dapat memungkinkan terjadinya kekeliruan misalnya kompleksitas atau kekaburan perkara yang menjadi persoalan.
•Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya:
1.Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses  kegiatan mengetahui
2.sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah. 

pertemuan II 16 september 2014 Filsafat Metafisika


Pencabangan Filsafat


Pembagian Filsafat
Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan, lalu makin rasional dan sistematis.
Pengetahuan manusia: makin luas dan bertambah banyak, tapi makin khusus.
•Disiplin ilmu memisahkan diri dari filsafat.
•Namun masalah pokok filsafat makin banyak, maka perlu dibagi sesuai kelompok permasalahan, yang disebut cabang filsafat.
 
Tokoh-Tokoh yang berjasa membuat pembagian filsafat

Aristoteles: Fils. Spektulatif/Teoretis, praktika, produktif. Analitika dan Dialektika masuk dalam metode dasar bagi pengembangan filsafat.
Christian Wolff (1679-1754): Logika, Ontologi, Kosmologi, Psikologi, Teologi Naturalis, Etika.
Will Durant (The Story of Philosophy, 1926): Logika, Estetika, Etika, Politika, Metafisika.
Eerste Nederlandse Systematich Ingerichte Encyclopaedie-ENSIE: Metafisika, Logika, Epistemologi, Filsafat Ilmu, Fils. Naturalis, Fils. Kultural, Fils. Sejarah, Estetika, Etika, Fils. Manusia.
The World University Encyclopedia: Sejarah filsafat, Metafisika, Epistemologi, Logika, Etika, Estetika.
Pembagian Cabang Filsafat Secara Umum
1.Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
2.Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi metafisik, Antropologi
3.Logika: Ilmu berpikir kritis
4.Etika: Filsafat tingkah laku
5.Estetika: Filsafat keindahan
6.Aksiologi: Filsafat Nilai
7.Fils. Pendidikan, Fils. Agama, Fils. Hukum, Fils. Ekonomi, dll.

Epistemologi
 
Epistemologi: kata, pikiran, percakapan ttg pengetahuan atau ilmu pengetahuan.
Pokok persoalan: sumber, asal mula, sifat dasar, batas, jangkauan, validitas.

TIGA JENIS PENGETAHUAN

Pengetahuan biasa: pra-ilmiah, krn hasil pencerapan indrawi dan hasil pemikiran rasional yang masih harus diuji lebih lanjut kebenarannya.
Pengetahuan ilmiah: diperoleh lewat metode ilmiah dan dpt dijamin kepastian kebenarannya.
Pengetahuan filsafati: pemikiran resional yang didasarkan pada pemahaman dan pemikiran logis, analitis dan sistematis.
 
Sumber-Sumber Pengetahuan
•Plato, Descartes, Spinoza, Leibniz: akal budi atau rasio.
•Bacon, Hobbes, Locke: pengalaman inderawi. Seluruh ide, konsep manusia berasal dari pengalaman, dan bersifat aposteriori.
John Locke: ide manusia berasal dari sensasi, refleksi terhadap ide sensatif itu.
Immanuel Kant: Walau ide dan konsep apriori, ia bisa diaplikasikan bila ada pengalaman. 

Penganut skeptisisme: segala sesuatu dapat saja disangsikan kebenarannya. Pegangannya ungkapan Sokrates: “Apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”. Dkl: Tidak ada pengetahuan yang pasti. Phyrro (365-275SM), pencipta skeptisisme sistematis pertama: Kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu, krn tidak ada yang benar-benar dpt diketahui dg pasti. 
 J. Wilkins (1614-1672) dan J. Glanvill (1636-1680): membedakan pengetahuan tertentu yang sempurna dan pengetahuan tertentu yang sudah pasti.  

David Hume (1711-1776): serang dasar pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dpt dibenarkan scr rasional. Generalisasi induktif bukan suatu proses berpikir, tapi sekedar berharap.
Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati. 
Albert Camus (1913-1960): Manusia berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya, tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.
Kesahihan Pengetahuan
Beberapa teori kesahihan pengetahuan:
- Teori kesahihan koherensi: proposisi diakui sahih bila ia memiliki hubungan dengan gagasan proposisi sebelumnya yang sahih.
 -Teori kesahihan korespondensi: pengetahuan sahih, bila proposisi bersesuaian dengan realitas, punya kaitan erat dengan kepastian inderawi.
- Teori kesahihan pragmatis: pengetahuan sahih bila proposisi punya kegunaan bagi yang memiliki pengetahuan.
- Teori kesahihan logikal: memiliki term berbeda, tapi berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi, mis. Siklus adalah lingkaran, lingkaran itu bulat.

Etimologis: meta ta physika sesudah fisika. Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yg ditempatkan sesudah fisika (8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika).
Beragam arti metafisika:
   =upaya mengkarakterisasi realitas sbg keseluruhan.
   =usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
   = (umum) pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.
Pembagian metafisika: Metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yg meliputi: kosmologi, teologi metafisik, fils. Antropologi.
Metafisika Umum (Ontologi)
•Membahas segala sesuatu yg ada secara menyeluruh dg cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
•Pertanyaan utama: apakah realitas yang tampak beraneka ragam itu pd hakekatnya satu atau tidak?
Tiga teori ontologis:
idealisme: ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya. Tokohnya Berkeley (1685-1753) 

Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material. 

Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (teori ttg jumlah substansi).
 
Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
Kosmologi: (kosmos=dunia/ketertiban, logos=kata, ilmu) percakapan ttg alam/ketertiban paling fundamental dr seluruh realitas.
 
Teologi metafisik: dikenal dg theodicea yg membahas kepercayaan pd Allah di tengah realitas kejahatan yg merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dg bukti rasional sbb:
argumen ontologis: semua manusia punya ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dr ide manusia ttg Tuhan.
Metafisika Khusus (Teologi metafisik)
Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
Filsafat Stoa: panteistis adalah segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.
Metafisika khusus (Teologi metafisik)
L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sbg Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu 
a) penguasa alam
b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan
c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.

Aksiologi 

•Aksiologi berasal dari kata dalam bahsa Yunani, yaitu axios dan logos.
•Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.
•Nilai berkaitan dengan kegunaan.
•Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
•Aksiologi sebagai ilmu yanbg membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
 
Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.
Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.
 
●Pengetahuan manusia itu cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya.
•Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
•Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.
 
•Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
•Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta.
•Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. 
 
FAKTA DAN NILAI
 
•Fakta selalu mendahului nilai, duluan fakta baru penilaian atas fakta tsb.
•Maka, ada 3 ciri2 nilai: 
1) Nilai berkaitan dengan subjek
2) Nilai tampil dlm konteks praktis
3) Nilai menyangkut  sifat yang ditambah oleh subjek pd sifat yg dimiliki oleh objek.
•Macam2 nilai: 
1) nilai ekonomis: bdk hukum ekonomi
2) nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.
 
•Nilai dibagi dlm 4 kelompok: 
1) Nilai yg menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yg perpadanan dengan makluk punya indera.
 2) Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar,  luhur dll
3) nilai rohani spt nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalah inderawi)
4) Nilai Religius spt yg kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
•Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut: nilai vital lebih tinggi dr nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dr nilai vital, dst.
 
NILAI MORAL
 
•Ciri2 nilai moral: 
1) Berkaitan dengan tanggungjawab kita sbg manusia. Nilai moral bs diwujudkan dlm perbuatan  yg sepenuhnya jd tanggungjawab.
2) Berkaitan dg hati nurani
3) Mewajibkan, mis nilai moral mewajibkan scr absolut
4) Bersifat formal: tdk ada nilai moral yg ‘murni’ terlepas dari nilai lain.

•Nilai moral memiliki kekuatan besar yg memaksa utk menerimanya, walaupun bertentangan dg hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.

•Jadi, nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas yang dimiliki objek tertentu yg dikatakan ‘baik’.
 
•Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu: 1) Etika (Filsafat Etika) 
         2) Estetika (Filsafat keindahan).
•Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
•Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral, putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati.
•Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lainnya.
•Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma, dan istilah moral.
•Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
•Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.  
•Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
 
1.Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
2.Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.
3.Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
4.Memperkuat identitas kita sebagai manusia

Minggu, 21 September 2014

mind map

Filsafat

FILSAFAT SEBAGAI INDUK ILMU PENGETAHUAN

Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dari keduanya. Dalam berfilsafat kita didorong untuk mengetahui apa yang kita tahu dan apa yang belum kita tahu.Filsafat dalam pandangan tokoh-tokoh dunia diartikan sebagai berikut:
  • Plato (427 – 348 sm), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli
  • Aristoteles (382 – 322 sm), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung dalam ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika
  • Al Kindi filsafat adalah pengetahuan tentang realisasi segala sesuatu sejauh jangkauan kemampuan manusia
  • Al Farabi (870 – 950 m), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikat sebenarnya.
  • Prof. H. Muhammad Yamin, filsafat adalah pemusatan pikiran, sehingga manusia menemui kepribadiannya. Di dalam kepribadiannya itu dialami sesungguhnya.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, filsafat dapat diartikan sebagai berikut
1. Teori atau analisis logis tentang prinsip-prinsip yang mendasari pengaturan, pemikiran pengetahuan, sifat alam semesta.
2. Prinsip-prinsip umum tentang suatu bidang pengetahuan.
3. Ilmu yang berintikan logika ,estetika, metafisika, dan epistemologi
4. Falsafah
Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin dan menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk sistematik. Dengan demikian filsafat memerlukan analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran sudut pandangan yang menjadi dasar suatu tindakan. Semua ilmu baik ilmu sosial maupun ilmu alam bertolak dari pengembangannya yaitu filsafat. Pada awalnya filsafat terdiri dari tiga segi yaitu (1)apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika); (2) mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika); (3)apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).
Kemudian ketiga cabang utama itu berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik. Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain mencakup:
  1. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
  2. Etika (Filsafat Moral)
  3. Estetika (Filsafat Seni)
  4. Metafisika
  5. Politik (Filsafat Pemerintahan)
  6. Filsafat Agama
  7. Filsafat Ilmu
  8. Filsafat Pendidikan
  9. Filsafat Hukum
  10. Filsafat Sejarah
  11. Filsafat Matematika
Ilmu tersebut pada tahap selanjutnya menyatakan diri otonom, bebas dari konsep-konsep dan norma-norma filsafat. Namun demikian ketika ilmu tersebut mengalami pertentangan-pertentangan maka akan kembali kepada filsafat sebagai induk dari ilmu tersebut.


ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Aliran-aliran yang berkembang saat ini sangat dipengaruhi oleh pandangan dan teori-teori yang dikemukan oleh para filosofi-filosofi dunia. Aliran-aliran dalam Filsafat yang berkembang saat ini antara lain:

1. Filsafat Pendidikan Idealisme
memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali
2. Filsafat Pendidikan Realisme
merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.
3. Filsafat Pendidikan Materialisme
berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme  sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.
5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme 
memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich
6. Filsafat Pendidikan Progresivisme 
bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff
7. Filsafat Pendidikan Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
8. Filsafat Pendidikan Perenialisme 
merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme 
merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.