Senin, 22 September 2014

pertemuan II 16 september 2014 Filsafat Metafisika


Pencabangan Filsafat


Pembagian Filsafat
Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan, lalu makin rasional dan sistematis.
Pengetahuan manusia: makin luas dan bertambah banyak, tapi makin khusus.
•Disiplin ilmu memisahkan diri dari filsafat.
•Namun masalah pokok filsafat makin banyak, maka perlu dibagi sesuai kelompok permasalahan, yang disebut cabang filsafat.
 
Tokoh-Tokoh yang berjasa membuat pembagian filsafat

Aristoteles: Fils. Spektulatif/Teoretis, praktika, produktif. Analitika dan Dialektika masuk dalam metode dasar bagi pengembangan filsafat.
Christian Wolff (1679-1754): Logika, Ontologi, Kosmologi, Psikologi, Teologi Naturalis, Etika.
Will Durant (The Story of Philosophy, 1926): Logika, Estetika, Etika, Politika, Metafisika.
Eerste Nederlandse Systematich Ingerichte Encyclopaedie-ENSIE: Metafisika, Logika, Epistemologi, Filsafat Ilmu, Fils. Naturalis, Fils. Kultural, Fils. Sejarah, Estetika, Etika, Fils. Manusia.
The World University Encyclopedia: Sejarah filsafat, Metafisika, Epistemologi, Logika, Etika, Estetika.
Pembagian Cabang Filsafat Secara Umum
1.Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
2.Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi metafisik, Antropologi
3.Logika: Ilmu berpikir kritis
4.Etika: Filsafat tingkah laku
5.Estetika: Filsafat keindahan
6.Aksiologi: Filsafat Nilai
7.Fils. Pendidikan, Fils. Agama, Fils. Hukum, Fils. Ekonomi, dll.

Epistemologi
 
Epistemologi: kata, pikiran, percakapan ttg pengetahuan atau ilmu pengetahuan.
Pokok persoalan: sumber, asal mula, sifat dasar, batas, jangkauan, validitas.

TIGA JENIS PENGETAHUAN

Pengetahuan biasa: pra-ilmiah, krn hasil pencerapan indrawi dan hasil pemikiran rasional yang masih harus diuji lebih lanjut kebenarannya.
Pengetahuan ilmiah: diperoleh lewat metode ilmiah dan dpt dijamin kepastian kebenarannya.
Pengetahuan filsafati: pemikiran resional yang didasarkan pada pemahaman dan pemikiran logis, analitis dan sistematis.
 
Sumber-Sumber Pengetahuan
•Plato, Descartes, Spinoza, Leibniz: akal budi atau rasio.
•Bacon, Hobbes, Locke: pengalaman inderawi. Seluruh ide, konsep manusia berasal dari pengalaman, dan bersifat aposteriori.
John Locke: ide manusia berasal dari sensasi, refleksi terhadap ide sensatif itu.
Immanuel Kant: Walau ide dan konsep apriori, ia bisa diaplikasikan bila ada pengalaman. 

Penganut skeptisisme: segala sesuatu dapat saja disangsikan kebenarannya. Pegangannya ungkapan Sokrates: “Apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”. Dkl: Tidak ada pengetahuan yang pasti. Phyrro (365-275SM), pencipta skeptisisme sistematis pertama: Kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu, krn tidak ada yang benar-benar dpt diketahui dg pasti. 
 J. Wilkins (1614-1672) dan J. Glanvill (1636-1680): membedakan pengetahuan tertentu yang sempurna dan pengetahuan tertentu yang sudah pasti.  

David Hume (1711-1776): serang dasar pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dpt dibenarkan scr rasional. Generalisasi induktif bukan suatu proses berpikir, tapi sekedar berharap.
Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati. 
Albert Camus (1913-1960): Manusia berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya, tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.
Kesahihan Pengetahuan
Beberapa teori kesahihan pengetahuan:
- Teori kesahihan koherensi: proposisi diakui sahih bila ia memiliki hubungan dengan gagasan proposisi sebelumnya yang sahih.
 -Teori kesahihan korespondensi: pengetahuan sahih, bila proposisi bersesuaian dengan realitas, punya kaitan erat dengan kepastian inderawi.
- Teori kesahihan pragmatis: pengetahuan sahih bila proposisi punya kegunaan bagi yang memiliki pengetahuan.
- Teori kesahihan logikal: memiliki term berbeda, tapi berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi, mis. Siklus adalah lingkaran, lingkaran itu bulat.

Etimologis: meta ta physika sesudah fisika. Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yg ditempatkan sesudah fisika (8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika).
Beragam arti metafisika:
   =upaya mengkarakterisasi realitas sbg keseluruhan.
   =usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
   = (umum) pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.
Pembagian metafisika: Metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yg meliputi: kosmologi, teologi metafisik, fils. Antropologi.
Metafisika Umum (Ontologi)
•Membahas segala sesuatu yg ada secara menyeluruh dg cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
•Pertanyaan utama: apakah realitas yang tampak beraneka ragam itu pd hakekatnya satu atau tidak?
Tiga teori ontologis:
idealisme: ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya. Tokohnya Berkeley (1685-1753) 

Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material. 

Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (teori ttg jumlah substansi).
 
Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
Kosmologi: (kosmos=dunia/ketertiban, logos=kata, ilmu) percakapan ttg alam/ketertiban paling fundamental dr seluruh realitas.
 
Teologi metafisik: dikenal dg theodicea yg membahas kepercayaan pd Allah di tengah realitas kejahatan yg merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dg bukti rasional sbb:
argumen ontologis: semua manusia punya ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dr ide manusia ttg Tuhan.
Metafisika Khusus (Teologi metafisik)
Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
Filsafat Stoa: panteistis adalah segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.
Metafisika khusus (Teologi metafisik)
L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sbg Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu 
a) penguasa alam
b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan
c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.

Aksiologi 

•Aksiologi berasal dari kata dalam bahsa Yunani, yaitu axios dan logos.
•Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.
•Nilai berkaitan dengan kegunaan.
•Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
•Aksiologi sebagai ilmu yanbg membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
 
Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.
Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.
 
●Pengetahuan manusia itu cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya.
•Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
•Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.
 
•Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
•Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta.
•Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. 
 
FAKTA DAN NILAI
 
•Fakta selalu mendahului nilai, duluan fakta baru penilaian atas fakta tsb.
•Maka, ada 3 ciri2 nilai: 
1) Nilai berkaitan dengan subjek
2) Nilai tampil dlm konteks praktis
3) Nilai menyangkut  sifat yang ditambah oleh subjek pd sifat yg dimiliki oleh objek.
•Macam2 nilai: 
1) nilai ekonomis: bdk hukum ekonomi
2) nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.
 
•Nilai dibagi dlm 4 kelompok: 
1) Nilai yg menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yg perpadanan dengan makluk punya indera.
 2) Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar,  luhur dll
3) nilai rohani spt nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalah inderawi)
4) Nilai Religius spt yg kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
•Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut: nilai vital lebih tinggi dr nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dr nilai vital, dst.
 
NILAI MORAL
 
•Ciri2 nilai moral: 
1) Berkaitan dengan tanggungjawab kita sbg manusia. Nilai moral bs diwujudkan dlm perbuatan  yg sepenuhnya jd tanggungjawab.
2) Berkaitan dg hati nurani
3) Mewajibkan, mis nilai moral mewajibkan scr absolut
4) Bersifat formal: tdk ada nilai moral yg ‘murni’ terlepas dari nilai lain.

•Nilai moral memiliki kekuatan besar yg memaksa utk menerimanya, walaupun bertentangan dg hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.

•Jadi, nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas yang dimiliki objek tertentu yg dikatakan ‘baik’.
 
•Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu: 1) Etika (Filsafat Etika) 
         2) Estetika (Filsafat keindahan).
•Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
•Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral, putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati.
•Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lainnya.
•Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma, dan istilah moral.
•Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
•Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.  
•Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
 
1.Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
2.Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.
3.Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
4.Memperkuat identitas kita sebagai manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar